Home / Profil / Sejarah Desa

Sejarah Desa

Keberadaan Desa Sungai Kakap ini, tidak muncul seketika, semua bermula dari proses baik sejarah penduduknya , adat istiadat dan budaya, wilayah, dan pemerintahannya.
Asal nama Sungai “Kakap”

Dari cerita yang berhasil saya himpun dan saya dengar langsung dari orang-orang tua atau tokoh yang dituakan,  ada 2 (dua) alternatif nama desa ini.
1. Nama Sungai Kakap diambil dari nama Perahu “Kakap” yang sering digunakan oleh Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadrie, pada masa ketika beliau hilir mudik menyusuri sungai kapuas untuk berdagang dan digunakan juga ketika mendirikan kerajaan di simpang tiga atau yang kita kenal sekarang Kota Pontianak. Alternatif ini diperkuat dengan adanya bangunan pendopo di Tanjung Intan (Desa Sungai Kupah)  tempat peristirahatannya Sultan.
Namun yang menjadi pertanyaan, pemberian nama perahu “Kakap” dari mana, dan atas dasar apa bisa diberi nama perahu “Kakap”.
Nama tanjung intan dan tanjung kakap sudah dikenal masyarakat setempat dari zaman dahulu kala.
Tanjung kakap merupakan sebagai tanda tempat atau daerah yang akan dilintasi Sultan ketika mau berlayar menuju ke suatu wilayah.

\

ikan kakap
Salah Satu Jenis Ikan Kakap

2. Nama Desa Sungai Kakap diambil dari nama Ikan yaitu Ikan “Kakap”
Sedikit saya mengulas tentang Ikan Kakap ini. Ikan kakap adalah ikan laut dasaran yang hidup secara berkelompok di dasar-dasar karang atau terumbu karang ke daerah pasang surut di muara. Bahkan, beberapa spesies cendrung menembus ke perairan air tawar .Mempunya ciri tubuh yang bulat pipih dengan sirip memanjang sepanjang punggung. Jenis ikan kakap yang banyak ditemui di Indonesia adalah jenis Kakap merah (L. campechanus) beberapa jenis yang lain yang juga banyak di temui adalah Kakap kuning, Kakap hitam dan lain-lain.
Kakap merupakan fauna khas provinsi Kepulauan Riau dikarenakan provinsi ini merupakan tempat tinggal banyak ikan Kakap (berbagai sumber).
Melihat dikondisi sekarang ini  sangat mustahil menjumpai Ikan Kakap ada di muara kakap. Semua itu bermula ketika  diperintahkannya pasukan/prajurit kerajaan kesultanan Pontianak  untuk menjaga sebuah pulau yang bernama “Tanjung Salai” (Sekarang Desa Tanjung Saleh),mengingat Pulau tersebut merupakan tempat bersarangnya para perompak/penyamun/bajak laut atau kita sebut Lanon. Lanon tersebut tidak segan menangkap, membunuh dan menyalai korban. Turunnya prajurit dipimpin langsung oleh seorang panglima kerajaan ke tanjung kakap itu berdasarkan laporan salah seorang penduduk yang sudah tinggal di sekitar pesisir tanjung kakap kepada Raja, bahwa di seberang tanjung kakap telah bermukim para lanon. Tentunya keberadaan para lanon membuat resah penduduk .

Tanjung Kakap
Tanjung Kakap

Prajurit yang diutus itu bermukim lama di muara kakap, sehingga untuk memenuhi kebutuhan lauk-pauk mereka sehari-hari,mereka membuat alat tangkap baik berupa pancing atau bubu, untuk bisa mendapatkan lauk mereka di kuala kakap. Menariknya ikan yang sering dan banyak mereka dapati adalah “Ikan Kakap”. Karena ikan kakap ini lebih istimewa ketimbang ikan yang lain.Sehingga ikan ini menjadi santapan pokok para prajurit sebagai lauk meraka. Karena banyaknya ikan kakap yang didapat, informasi ini pun tersebar dari mulut kemulut , mengundang beberapa orang dari luar untuk datang guna mendapatkan ikan kakap sebagai lauk mereka juga. Jadi kalau ada orang luar bertanya, dimana bisa mendapatkan ikan kakap, pasti dibilang disana, sambil menunjuk ke arah  kuala/muara kakap.
Melimpahnya hasil laut juga menarik kumpulan warga china (etnis tiong hoa) untuk hijrah dan belayar  menuju kuala kakap dan menetap.
Jauh sebelum disebutnya kata “Sungai Kakap”, sudah ada kata atau istilah wilayah “Tanjung Kakap” yang

Rumah Penduduk tempo dulu, dan hanya tersisa satu-satu
Rumah Penduduk tempo dulu, dan hanya tersisa satu-satu

membentang dari  Sungai Kakap sampai ke arah Desa Sungai Kupah (Tanjung Intan) sekarang.Dan memang sudah

ada penduduk telah menetap dan tinggal sepanjang pesisir tanjung kakap.

Dari dua alternatif nama tersebut, alternatif kedualah yang lebih banyak diceritakan, maka dari itu dari dulu sampai sekarang, Desa Sungai Kakap sudah dikenal dengan hasil perikanan tangkapnya.
Jadi dapat disimpulkan awal mulanya orang pergi dan pindah ke kuala kakap ini bertujuan untuk menangkap hasil laut/ menjadi nelayan.
Karena Kuala/muara Kakap merupak Ujung dan bagian dari sungai, maka secara spotan dan lata masyarakat menyebut “Sungai Kakap”.

  •  Sungai Kakap Pada Masa Kerajaan Pontianak

Sejak masuk dan bermukimnya prajurit kerajaan pada masa kepemimpinan Sultan Sy.Abdurrahman Al-Qadrie, Sungai Kakap masuk dalam wilayah kerajaan pontianak.

Pada masa kepemimpinan Sultan Sy.Abdurrahman inilah wilayah sungai kakap  mulai mendapat perhatian, karena beliau sering melintasi wilayah sungai kakap, maka beliau mendirikan Pendopo di tanjung intan (Sungai Kupah) sebagai tempat persinggahan dan peristirahatan beliau berserta keluarga dan rombongan kerajaan.

Pemukiman masyarakat sungai kakap pada masa itu, masih bersifat kelompok-kelompok dan terpisah-pisah,  kebanyakan titik-titik pemukiman penduduk pada masa lalu bersifat kekeluargaan atau kekerabatan serta betompok-tompok (bahase melayu).

  • Masa Kolonial VOC/ Penjajahan
peta kakap 1893
Nederlandsch_indie_1893 Sudah tertulis Soengai Kakap

Datangnya Kolonial VOC dan berdirinya pos dagang mereka di pontianak terdengar cepat oleh penduduk sungai kakap, terlebih lagi ketika penyerahan kekuasaan ke tangan Belanda pada masa kepimpinan oleh Sultan Syarif Kasim Al-Qadrie pada 9 agustus 1818 (sumber :http://syarif-untan.tripod.com/Budaya.htm). Belanda pun bergerak memperkuat kekuasaannya hingga ke sungai kakap. Keberadaan belanda di sungai kakap tidak selalu berdampak  negatif terhadap wilayah sungai kakap, tepatnya di lokasi SMPN 1 Sungai Kakap pada saat ini, dipinggir sungai  mereka mendirikan sekolah pertama di Sungai Kakap atau yang lebih kita kenal  dengan Sekolah Rakyat (SR). Sekolah yang diperuntukkan untuk masyarkat pribumi. Sekolah Rakyat (SR) itu merupakan sekolah pertama yang ada di Kecamatan Sungai Kakap pada masa itu, sekarang bangunan tersebut sudah tidak lagi berdiri dan diganti dengan Bangunan SMPN 1 Sungai Kakap. Sekolah Rakyat (SR) ini diperkirakan berdiri pada pada 1912 (Tahun 12 sebutan penduduk pada saat itu). Di Sekolah rakyat ini para penduduk belajar menulis dan membaca mengguna papan tulis dan sebongka kapur tulis atau tulisan grep. SR ini juga disebut Sekolah Desa (Volksch School) lama pendidikan 3 tahun.

Di sisi lain, jauh sebelum berdirinya sekolah rakyat ini, telah berdiri Kantor Adminstrasi Belanda (Sekarang Bangunan SDN 39 Sungai Kakap) diperkirakan berdiri pada masa  Komisaris Nahuys memimpin sekitar 1819. Selain sebagi kantor, tempat itu juga menjadi tempat untuk investigasi dan eksekusi belanda terhadap penduduk sungai kakap. Tak jarang penduduk sungai kakap pada masa itu juga sering mendapatkan perlakuan kasar. Terlebih yang melakukan tindakan kriminal. Aliran sungai tempat berdirinya kantor tersebut oleh masyarakat dikenal dengan nama “Parit Kantor”. Meraka orang belanda juga membangun penjara untuk penduduk yang berlokasi di parit penjara desa sungai kakap.Orang-orang yang dianggap bersalah dijebloskan ke dalam penjara.

Jauh di lokasi Kantor belanda tepat tanjung kakap juga berdiri  tempat eksekusi para napi yang sebelum tempat tersebut merupakan galangan perahu. Tempat ini juga dijadikan pos belanda.

Bangunan yang pernah ada dan diri pada masa kolonial belanda di Sungai Kakap

1. Kantor

2. Penjara

3. Rumah Candu (rumah bewarna hitam , posisinya dekat sungai dekat pasar lama)

4. Pos Eksekusi

  • Masa Penjajahan/ Pendudukan Jepang

Menangnya Jepang terhadap belanda berdampak pada peralihan kekuasaan dari tangan belanda ke jepang (jepon sebutan orang kakap) tidak terkecuali sungai kakap pada saat itu. Ketika tentara jepang dibawah N Nakanichi yang berpangkat Bun Kei Kai Ri Kan (centroluer dalam istilah belanda) tiba di Pontianak pada tahun 1942, menimbulkan kehebohan bagi penduduk, terlebih-lebih lagi penduduk sungai kakap pada saat itu. Ada peristiwa memilukan terjadi di Desa Sungai Kakap ketika akan terjadinya transisi kekuasaan dari belanda ke jepang. Yaitu peristiwa dibakarnya  Rumah Cap Kapak.

Rumah tersebut sebenarnya adalah pasar pertama yang berdiri di Desa Sungai Kakap yang dimiliki oleh orang tiong hoa, terdiri dari belasan pintu. Pasar tersebut dibakar oleh penduduk setempat dan pemiliknya diminta untu keluar meninggalkan warung atau kedai mereka. Masyarakat pada saat itu hanya mengikuti perintah dari Perwakilan Belanda yang ada di Desa Sungai Kakap, tanpa mengetahui kenapa harus dibakar.Ini merupakan taktik dan akal picik orang belanda pada saat itu, mereka tidak rela menerima keberadaan tentara jepang dan sengaja membuat kekacauan di desa, agar ketika jepang tiba di desa , kondisi desa terkesan kacau balau alias tidak kondusif.

Ketika peristiwa itu terjadi ada juga beberapa orang yang memanfaatkannya untuk mencari keuntungan dengan menjarah barang-barang. Oleh masyarakat pasar tersebut dinamai rumah cap kapak karena rumah-rumah tersebut digembok dan dipasangi kayu melintang berbentuk X sebelum dibakar oleh masa.

Tibanya tentara jepang di Sungai Kakap, mereka langsung menjadikan bangunan sekolah rakyat (SR) sebagai posko tempat tinggal mereka. Dan selang 2 tahun beralu lalang di Sungai Kakap, mereka mendirikan Pos Penjaga Laut di atas sebuah pohon merbau. (Pohon merbau merupakan pohon besar yang kokoh dan menjulang tinggi). Dan masyarakat setempat disuruh menjadi penjaga pos,dan melaporkan kondisi kepada tentara jepang. Jepang menerapkan jadwal piket penjagaaan. Jika siang hari orang tiong hoa yang menjaga, dan jika malam hari orang melayu yang menjaga. Pos jaga ini adalah bentuk kekhawtiran jepang ketika mereka di ambang kekalahan dalam perang dunia ke 2. Untuk memantau aktifitas pasukan negara lain yang bisa suatu saat juga sampai di sungai kakap.

Pada masa penjajahan jepang itu, banyak penduduk yang meninggalkan rumah dan tanah mereka, yang kaya mengaku miskin, yang pintarpun mengaku bodoh. Dan ada beberapa juga penduduk sungai kakap menjadi pesuruhan tentara jepang pada masa itu.

Jika kedapatan ada beberapa warga yang berkumpul di suatu tempat, maka tentara jepang atau kaki tangan jepang akan menghampiri mereka. Tidak ada yang berani meninggalkan tempat jika tentara jepang menghampiri. Yang di lakukan mereka terhadap warga yang berkumpul salah satunya adalah memberikan 1 buah bulpen dan selembar kertas. Warga diminta untuk menuliskan nama mereka masing-masing. Bagi yang tahu menulis mereka ditawarkan untuk kerja bersama jepang atau jika tidak mau dijebloskan ke penjara, sementara bagi yang tidak tahu menulis dibiarkan. Dan masih banyak lagi cerita pedih penduduk ketika jepang menjajah di sungai kakap.

Kondisi masyarakat dan perlakuan mereka terhadap masyarakat pada masa pendudukan jepang tidak jauh beda dengan di tempat-tempat lain. Ada juga orang yang dipenggal kepalanya di parit kantor, namun tidak diketahui asal orang -orang tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *